SOLAVIVRE

Revolutionizing resilience: embracing & celebrating chaos.

  • Film Perfect Days karya Wim Wenders (2023): Melihat, merawat, menerima, dan merayakan hidup dalam bentuknya yang paling sederhana.

    Ada hidup yang berjalan tanpa terburu-buru. Bangun pagi, memakai seragam yang sama, menyiram tanaman, memutar kaset lama, lalu berangkat bekerja. Dalam Perfect Days, Hirayama menjalani hari-harinya dengan cara yang sederhana, nyaris sunyi. Tapi justru di sanalah hidup terasa penuh. Dari hal-hal kecil yang sering kita lewati, kopi kaleng dari mesin minuman di pagi hari, benda-benda yang disusun rapi, cahaya yang jatuh di sela dedaunan, film ini mengajak kita melihat hidup bukan dari apa yang kurang, tapi dari apa yang hadir.

    Hirayama bukan tokoh yang banyak bicara. Ia bekerja sebagai pembersih toilet, merawat ruang yang sering dianggap kotor dan tak penting. Tapi caranya bekerja penuh perhatian, seolah setiap sudut layak diperlakukan dengan hormat. Ia merawat tanaman kecil seperti makhluk hidup yang setara, memotret cahaya dan bayangan di taman, mencuci foto-fotonya dengan sabar. Rutinitas yang berulang justru menjadi ruang aman, tempat ia berdamai dengan hidup.

    Namun Perfect Days tidak membohongi kita dengan kebahagiaan yang selalu utuh. Ada momen rapuh yang tak bisa dihindari: kaset kesayangan yang harus dijual demi bensin, cinta yang tak pernah benar-benar dimiliki, pertanyaan tentang pekerjaan yang dijawab dengan senyum tapi menyisakan luka. Hirayama mengajarkan bahwa menjalani hidup bukan berarti selalu menang, tapi tahu kapan harus mengalah, menerima, lalu tetap berjalan.

    Di sela semua itu, film ini terasa sangat dekat. Kaset-kaset favorit yang diputar berulang, restoran dengan menu yang sama, toko buku bekas di akhir pekan, onsen, bir dan rokok setelah patah hati. Kebahagiaan tidak datang sebagai pencapaian besar, tapi hadir diam-diam lewat hal-hal kecil dan mungkin justru karena itu terasa jujur.

    Perfect Days mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak bisa dibandingkan, tidak bisa diukur, dan tidak perlu dibuktikan. Ia hanya perlu dirasakan. Pelan-pelan. Hari demi hari.

    Ada banyak momen kecil dalam Perfect Days yang diam-diam tinggal lama di kepala. Seperti ketika Hirayama tersenyum menghadapi situasi yang sebenarnya menyakitkan. Saat seorang anak kecil hilang dan akhirnya ditemukan, ibunya justru mengelap tangan si anak dengan ekspresi jijik, seolah pekerjaan Hirayama adalah sesuatu yang kotor dan harus dijauhkan. Hirayama tidak membalas dengan marah. Ia hanya menerima, tetap tersenyum, tetap melanjutkan harinya. Di situ terasa jelas: tidak semua hal perlu dilawan, tidak semua luka perlu dijelaskan.

    Film ini juga jujur tentang keterbatasan. Tentang hidup yang kadang tidak berjalan sesuai prinsip yang ingin kita pegang. Hirayama meminjamkan uang pada temannya, menolak menjual kaset kesayangannya, tapi akhirnya tetap harus menjual kaset itu demi membeli bensin. Ada momen di mana kita harus mengalah pada hidup, bukan karena kita kalah, tapi karena kita ingin tetap berjalan. Kebahagiaan tidak selalu datang dari mempertahankan segalanya.

    Ada pula patah hati yang sederhana tapi terasa dekat. Ketika ia melihat perempuan yang ia sukai dipeluk orang lain, Hirayama tidak membuat drama. Ia membeli bir dan rokok, lalu menenggelamkan perasaannya dalam kesunyian. Adegan itu terasa manusiawi. Bahwa bahkan orang yang tampak paling tenang pun tetap punya luka yang tidak bisa dirapikan dengan rutinitas.

    Salah satu adegan paling rapuh adalah pertemuannya dengan saudarinya. Saudari yang tampak mapan, datang dengan mobil bagus dan cokelat kesukaan masa kecil. Ketika ditanya pekerjaannya, Hirayama menjawab bahwa ia membersihkan toilet, dengan senyum yang tenang. Tapi setelah saudarinya pergi, senyum itu runtuh. Ada kesedihan yang tertinggal, perasaan dibandingkan, perasaan tidak cukup. Di titik itu, film ini berhenti menjadi sekadar tentang kesederhanaan, dan berubah menjadi tentang keberanian memilih hidup yang mungkin tidak dipahami orang lain.

    Rutinitas Hirayama juga diselingi dengan proses yang sangat personal: memilih foto, mencuci foto, menatap hasil cetakannya. Foto-foto taman, bayangan cahaya, kolam dengan angsa, ibu-ibu di restoran. Kadang ia menatap foto itu lama, kadang terlihat bosan, seolah ada emosi yang sulit dijelaskan, mungkin karena ingatan tentang keponakannya, atau tentang masa lalu yang tak sepenuhnya selesai. Film ini menunjukkan bahwa emosi bukan sesuatu yang bisa dijinakkan hanya dengan kebiasaan baik.

    Kedatangan keponakannya membuka sisi lain dari Hirayama. Mereka berbagi kamera, buku, dan perjalanan ke laut. Di sana ia mengatakan kalimat sederhana namun kuat: “Jika tidak ada yang pernah berubah, bukankah itu absurd?” Pertanyaan itu muncul bersamaan dengan kesadaran lain: bahwa dunia terdiri dari banyak dunia, beberapa saling terhubung, beberapa tidak. Dalam Perfect Days, perubahan tidak datang sebagai kejutan besar, tapi sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Orang datang dan pergi, perasaan muncul lalu mereda, hidup bergerak meski rutinitas terlihat sama.

    Hirayama tidak berusaha menyatukan semua dunia itu. Ia tidak memaksa masa lalu untuk kembali, tidak memaksa masa depan untuk segera tiba. Ia memilih hadir sepenuhnya di dunia yang sedang ia jalani sekarang. Sekarang adalah sekarang. Kondo wa kondo. Ima wa ima. Bukan sebagai bentuk penyangkalan, tapi sebagai penerimaan, bahwa hidup terus berubah, dan tidak semua hal harus kita pahami atau genggam bersamaan.

    Di titik ini, film ini terasa seperti pengingat lembut: bahwa kita boleh hidup di dunia kita sendiri, berdampingan dengan dunia orang lain, tanpa harus saling menembus. Bahwa menerima perubahan bukan berarti kehilangan arah, melainkan belajar berdiri di saat ini, sepenuhnya.

    Pertemuannya dengan pria asing, mantan suami dari perempuan yang melayaninya di restauran, juga meninggalkan kesan mendalam. Tentang cara memandang dunia dari sudut yang berbeda, tentang bermain menangkap bayangan meski tidak semua orang bisa melihat apa yang kita lihat. Hirayama gigih, tapi ia tetap melanjutkan usahanya. Tidak untuk membuktikan apa-apa, hanya karena itu caranya menikmati hidup.

    Perfect Days akhirnya terasa dekat dengan mereka yang pendiam. Mereka yang tidak selalu pandai menjelaskan perasaannya, tapi peka pada hal-hal kecil. Mereka yang bisa ikut bahagia ketika orang lain menyukai lagu yang sama. Di titik inilah musik mengambil peran penting.

    Lou Reed, The Velvet Underground, Nina Simone, dan Patti Smith memiliki satu benang merah: mereka bernyanyi tentang hidup apa adanya. Tidak berisik, tidak berlebihan, tidak mencoba mengesankan siapa pun. Musik di Perfect Days tidak hadir untuk mengarahkan emosi penonton, tapi menemani, seperti teman yang duduk diam di sebelah kita.

    Kaset-kaset lama seperti The Velvet Underground – Pale Blue Eyes bukan sekadar musik, tapi teman hidup. Lagu-lagu ini menjadi ruang aman, tempat perasaan boleh hadir tanpa harus dijelaskan. Seperti Hirayama, musik di film ini tidak meminta untuk dipahami sepenuhnya. Ia hanya ada. Dan justru karena itu, terasa sangat manusiawi.

    Perfect Days tidak memberi jawaban pasti. Kita tidak tahu apakah Hirayama tetap tinggal di sana atau pergi. Tapi mungkin memang bukan itu yang penting. Yang penting adalah caranya menjalani hari: melihat, merawat, menerima, dan merayakan hidup dalam bentuknya yang paling sederhana.

    By Roo

  • Hari Pertama Kerja & Pikiran yang Masih Melayang-Melayang

    Senin, 5 Januari 2026.

    Hari ini bangun rasanya lebih berat dari hari-hari kemarin. Pagi ini kita makan sarapan polusi lagi, kemacetan lagi, absen lagi, dan huru-hara kecil yang terulang lagi. Semua kembali ke tempatnya masing-masing, seolah liburan hanya terjadi dalam beberapa kedipan mata.

    Ya, hari ini hari pertama kembali ke dunia kerja. Tapi pikiran dan jiwa masih terpaku sama nikmatnya makanan dan indahnya petasan akhir tahun. Pula pada hari-hari yang tidak diukur jam masuknya, tidak dihitung output-nya, dan tidak ditagih kehadirannya. Detik ini tubuh mungkin sudah duduk di kursi kerja, tapi kepala masih tertinggal entah di mana.

    Kutanya teman-temanku, ternyata bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama, mereka pun juga. Bukan sedih yang dramatis, bukan pula malas yang bisa ditertawakan. Lebih seperti perasaan setengah hadir. Ada yang menyebutnya kosong, ada yang bilang jenuh, ada juga yang tidak tahu harus menamai apa. Yang jelas, semuanya sepakat: memulai lagi terasa berat.

    Belakangan aku tahu perasaan ini sering disebut post holiday syndrome. Istilahnya terdengar rapi, seolah semua bisa dijelaskan dengan satu frasa. Padahal yang kurasakan bukan sakit, bukan juga kehilangan. Lebih seperti kaget. Kaget karena ritme hidup berubah terlalu cepat, dari hari-hari yang berjalan pelan ke hari-hari yang berlari.

    Selama liburan, hidup terasa tidak sedang diuji. Tidak ada yang harus dibuktikan. Tidak ada notifikasi yang harus segera dijawab. Waktu berjalan apa adanya, tanpa tuntutan terlihat produktif. Lalu hari ini, semuanya kembali dihitung. Jam, kehadiran, performa. Bukan liburannya yang membuat berat, tapi kontrasnya. Lompatan dari satu dunia ke dunia lain yang terlalu jauh.

    Di titik ini aku mulai berpikir, mungkin yang kita rindukan bukan liburannya. Tapi versi hidup yang tidak selalu terasa dikejar. Versi hidup di mana bangun pagi tidak langsung disambut daftar kewajiban. Liburan hanya mengingatkan bahwa hidup bisa berjalan dengan cara yang lebih manusiawi, walau hanya sebentar.

    Kita hidup di dunia memuja-muja emosi ekstrem. Bahagia maksimal saat liburan, kuat maksimal saat bekerja. Seolah hidup harus selalu berada di salah satu ujung. Padahal yang sering kita butuhkan bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi hidup yang tenang dan stabil. Hidup yang bisa dijalani tanpa harus selalu menunggu libur berikutnya sebagai penyelamat.

    Di situ juga kejenuhan dan kebosanan mulai terasa berbeda. Rutinitas yang membosankan, tapi tidak melukai. Hari-hari yang berjalan pelan, tanpa drama, tanpa euforia. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar menyedihkan. Tapi bagi yang terbiasa bertahan, ini justru terasa aman. Tanda bahwa hidup tidak sedang runtuh, hanya sedang berjalan.

    Mungkin hidup memang tidak harus selalu terasa penuh atau istimewa. Mungkin cukup stabil. Cukup tenang untuk bosan. Cukup aman untuk dijalani tanpa harus dirayakan atau dilawan. Setidaknya, itu satu cara lain memandang hidup—sambil duduk lagi di meja yang sama, di hari kerja yang kembali berjalan seperti biasa.

    by Ezra Kerenhapukh

  • PERAN ROTI RUMAHAN SURYA BAKERY, SEBAGAI PONDASI DI BALIK LAYAR SOCIAL CURRENCY.

    Berenang di lautan gengsi mengarungi gelombang social currency yang dibuat oleh society adalah tantangan riil yang dihadapi psikis kebanyakan orang saat ini. Selayaknya laut lepas beragam jenis ikan dengan kemampuan berenangnya masing-masing. Gak semua ikan kesulitan berenang, ada jenis yang terseok-seok terbawa gelombang, ada jenis yang pandai dan lihai menembus gulungan-gulungan gelombang.

    Pada dasarnya mereka yang survive-atau paling tidak, bertahan walau mengalami berkali-kali so-called near death experience-punya satu kesamaan, kemampuan yang didasari oleh satu pondasi kokoh, terhubung langsung ke masing-masing otot sirip, pondasi itu berupa “finansial”, sebuah anatomi non-fisik yang  menentukan seberapa lihai mereka berenang di lautan ini.

    Dalam satu lanskap potret sosial misalnya, hampir pasti terdiri dari banyak spektrum kemampuan yang saling tumpang tindih jadi satu. Tujuan paling rendahnya mungkin satu; tidak perlu jadi spektrum paling vibrant, cukup untuk bisa tampil dan terlihat dalam frame walau dengan warna pastel nan soft. Dibalik layar, banyak siasat yang dilakukan society ini untuk bisa bertahan-paling tidak-di titik tersebut.

    Alokasi kewarasan harus diracik setiap hari, timbang kanan timbang kiri, hasil akhir sering tidak dipedulikan lagi. Mengesampingkan neraca logika, tentang mana yang prioritas dan mana yang tidak, semua berusaha dan berebut “tampil” di dalam frame-atau fame?-tersebut, ego diri sendiri terus menerus dapat makan dari suapan-suapan opini diri sendiri yang berkiblat pada opini orang lain. Tanggapan orang lebih penting dari suara perut yang mungkin 10 menit sekali berdering, mencoba mengingatkan akal sehat, tapi luruh jauh sebelum sampai ke otak, terganjal kepuasan opini dari sosial media yang ditangkap lewat kornea mata.

    Selayaknya makhluk sosial, semua kita berketergantungan dengan yang lainnya, individu ke individu, spektrum satu ke spektrum yang lain. Banyak yang tidak tertangkap lensa, sekali lagi; di balik layar banyak hal terjadi dan tidak perlu dapat atensi, karena bukan jadi social currency, lebih ke siasat bertahan hidup untuk bisa berenang dan tidak tergulung gelombang.

    Misalnya, peran tukang roti dengan merk dagang “Surya Bakery” yang setiap hari keliling masuk ke seluk beluk gang di pinggir Jl. Antasari, ternyata berperan vital untuk jadi suplay energi karyawan bilangan Sudirman. Untuk bisa berenang, untuk bisa terus hook up sama kebiasaan ikan-ikan di daerah tersebut.

    Demi bisa berenang bersama di Lautan Kota, formula 4 sehat 5 sempurna harus ditunda mati-matian, diganti dengan roti gandum rumahan yang rasanya sudah cukup fancy berisikan pisang coklat yang manisnya seringkali tidak merata. Setiap hari lidah dan lambung ditipu, setiap hari kebutuhan tubuh dibodoh-bodohi, otak udah terbiasa dan sepakat untuk tidak terlalu peduli soal Gizi, yang penting gengsi terpenuhi dan masuk ke dalam frame yang hanya menyuguhi Social Currency.

    Lalu bagaimana seharusnya? Tidak bagaimana-mana, selama bisa hidup dan berenang, strategi silahkan atur sendiri. Perhatikan Untung-Rugi, lalu semuanya boleh dijalani. Selamat berenang!

    by Nunu Anugrah

  • That Girl? or Capitalism in Cute Packaging?

    Wake up at 5 am. Drink matcha. Journal your dreams. Gym before emails. Welcome to That Girl lifestyle. Aesthetic? Sure. Exhausting? Definitely.

    To be “like her”, you end up: Overbuying skincare, Forcing 5 am wakeups after 2 am doomscrolls, Mentally exhausted, but still posting “healing”.

    Spoiler alert: A lot of this is just content designed to sell your stuff. Capitalism is genius in its ability to tap into our deepest insecurities and desires. It makes you feel not enough, constantly craving more, so you keep checking your cart like it’s therapy, seeking solace in the idea that buying that next item will finally fill the void. The persuasive power of marketing wraps around you like a warm blanket, making you believe that your self-worth is tied to your possessions. Each ding of the notification becomes a signal of your achievements, prompting you to return for another fix, perpetuating a cycle where fulfillment is always just one purchase away.

    Reminder; You don’t need to earn rest. You’re not lazy. You’re tired. Rest is productive. Doing nothing is healing. Being enough is not a reward, it’s your baseline.

    Being “that girl” is exhausting, tbh. The pressure to constantly portray an idealized version of oneself can feel overwhelming and unrelenting, creating a never-ending cycle of expectations that are difficult to escape. It often leads to moments of doubt and insecurity, making you question your own journey and whether you’re truly fulfilling your potential. Just drop a comment to who on your FYP made you wonder, “am I falling behind?” Is it the perfectly curated lifestyle, the flawless skin, or the perfectly staged brunch photos that trigger these thoughts? Each scroll through social media can amplify these feelings, leaving you to ponder if you’re measuring up to those seemingly perfect standards that others showcase, which can sometimes feel unattainable.

    Next time you scroll, ask yourself: is this inspiration fueling my ambitions, or is it simply self-love wrapped in a sneaky side of pressure? Remember to take a step back and focus on your unique path, reminding yourself that everyone is on a different journey, and it’s absolutely okay to not have it all figured out just yet.

    The content reflects on society’s obsession with productivity and the pursuit of being “enough,” questioning if one already is. It invites readers to consider who on their social media feeds prompts them to reevaluate their routines, suggesting that scrolling can lead to either inspiration or subtle manipulation.

  • The Lustful Era and the Epidemic of Avoidance

    There’s a joke going around: Modern Dating is just a trauma bonding with better filters.

    Funny, until you realize it’s a diagnosis, maybe everyone’s horny, but no one’s honest.

    We live in an age where desire is louder than devotion, and lust is easier to market than love. Intimacy has been rebranded as a “risk.” Vulnerability feels like exposure. Somewhere between the dopamine rush and the healing affirmations, we lost our appetite for sincerity.

    Psychologists might call this the anxious-avoidant loop — where one person fears being abandoned, while the other fears being known. John Bowlby would probably shake his head; his Attachment Theory was never meant to explain why we panic when someone leaves us on read.

    Yet here we are, diagnosing our dating lives with therapy language, romanticizing our trauma as aesthetic, and mistaking fear for boundaries.

    Lust Is the Easier Product

    Lust sells faster because it doesn’t ask for accountability.
    It’s quick, marketable, and Instagram-ready — all heat, no history.
    Brands know it, media knows it, and honestly, so do we. In an age where instant gratification fuels our desires, lust capitalizes on the immediacy of attraction, creating a shimmering facade that is easily consumed.

    Our brains reward novelty: every match, every “hey,” every 2 a.m. notification triggers the same dopaminergic feedback loop that keeps gamblers pulling levers. This exhilarating rush of excitement and unpredictability is addictive, leading us to seek out more of these fleeting interactions. Desire becomes currency; attention, a transaction. With each fleeting moment, we trade bits of ourselves for likes and validations, reinforcing the notion that our worth can be quantified by how many hearts we collect.

    And in this economy of fleeting validation, love feels… outdated. It’s no longer the romantic ideal we once cherished but rather a cumbersome relic that demands time, effort, and emotional labor. Love requires maintenance — the slow, unglamorous work of consistency. It’s about nurturing the connection, facing challenges together, and yet that process seems tedious amidst the allure of passionate encounters that require little investment and promise instant rewards.

    Lust just needs lighting. It thrives in the spotlight, catching our gaze with its fiery glow. Yet, as we continuously chase this ephemeral flame, we may find ourselves more isolated than ever, longing for something deeper that transcends the superficial buzz. The challenge lies in finding a balance between the fiery allure of lust and the steady warmth of enduring love, a pursuit that demands reflection and deliberate choices in a world that often favors the immediate over the meaningful.

    Avoidance: The New Intimacy

    Avoidance has shifted from being considered a negative trait to being seen as a personality characteristic associated with self-care. While those with avoidant tendencies post about “protecting their peace,” they often ghost those who genuinely see them. They do not dislike intimacy; instead, they fear it due to past conditioning that associates vulnerability with pain. This leads them to build emotional barriers, mistaking them for healthy boundaries. Psychologists label this as a fear-avoidant or dismissive-avoidant pattern, while pop culture often describes it as being “not ready,” and social media romanticizes it as a sense of mystery.

    The Feminine Fatigue

    Let’s talk about this — not as victims, but as witnesses of this emotional famine.
    We’re fluent in self-awareness, raised on therapy speak, and addicted to understanding men who call detachment “independence.”

    We do the inner-child healing, the journaling, the shadow work — all while being told to “not expect too much.” Meanwhile, emotional illiteracy keeps getting framed as masculine minimalism.

    We’ve become the generation that performs composure while privately burning out.
    We’ve learned to intellectualize heartbreak to make it sound profound so it hurts less. But awareness without reciprocity only breeds exhaustion.
    We’re not cold. We’re just tired of doing emotional labor in one-sided intimacy.

    Our culture monetizes feelings.

    Music, film, even brand campaigns sell versions of desire that end right before commitment. We swipe through people like playlists, curating temporary highs and calling it connection.

    Psychologists call this emotional capitalism: when intimacy becomes a commodity — when our longing is just another algorithm to optimize.
    We’ve turned love into content and boundaries into marketing copy.

    So yes, lust has better PR.
    It’s faster, flashier, and doesn’t demand healing.
    Avoidance, on the other hand, markets itself as empowerment — it’s easier to say “I’m protecting my peace” than “I’m terrified of being loved wrong again.”

    The Quiet Grief

    What’s left after the thrill fades? A silence that tastes like regret — the kind that follows every “almost” you tried to make real. There’s a grief in realizing you’ve been desired but never truly met.
    That someone memorized your body but never cared to learn your soul.

    We keep calling this “modern love,” but maybe it’s just collective emotional dysregulation with better outfits. We’ve mistaken confusion for chemistry, detachment for control, and avoidance for depth.

    The Counterculture of Sincerity

    Maybe rebellion today looks like caring — loudly, deliberately, without irony, and passionately embracing vulnerability. Maybe softness is resistance, a quiet yet powerful declaration that we won’t adhere to the coldness of modern detachment. To text back, to stay, to mean it — these small yet significant choices reflect a resistance to the societal norms that often celebrate fleeting connections over genuine ones. Healing doesn’t mean building walls; it means learning how to stay open without losing yourself, forging connections that uplift rather than diminish us. And perhaps love — the real, inconvenient kind that asks us to be present and honest — is still worth the risk, even when it feels daunting. Because lust is loud, fueled by a restless fire that fades quickly. Avoidance is quiet, a coping mechanism that keeps us safe but ultimately isolates us.

    But love? Love is steady, a slow burn that doesn’t trend; it weathers storms, faces uncertainties, and endures through the trials of life. Epilogue Lust has become easier to sell than love in a world that often prioritizes surface-level pleasures over deeper, more fulfilling connections. Avoidance is trending as self-protection — a shield we wield against vulnerability — and somehow, it has morphed into the new intimacy, misleading many into believing they are engaged when they are, in fact, retreating. Girl, whatever. But also… maybe not whatever. Maybe the most radical thing we can do in the lustful era is to still believe — not in perfect people, but in honest ones, those who dare to show their true selves, revealing their flaws and fears and ultimately bridging the gap between loneliness and belonging.