SOLAVIVRE

Revolutionizing resilience: embracing & celebrating chaos.

PERAN ROTI RUMAHAN SURYA BAKERY, SEBAGAI PONDASI DI BALIK LAYAR SOCIAL CURRENCY.

Berenang di lautan gengsi mengarungi gelombang social currency yang dibuat oleh society adalah tantangan riil yang dihadapi psikis kebanyakan orang saat ini. Selayaknya laut lepas beragam jenis ikan dengan kemampuan berenangnya masing-masing. Gak semua ikan kesulitan berenang, ada jenis yang terseok-seok terbawa gelombang, ada jenis yang pandai dan lihai menembus gulungan-gulungan gelombang.

Pada dasarnya mereka yang survive-atau paling tidak, bertahan walau mengalami berkali-kali so-called near death experience-punya satu kesamaan, kemampuan yang didasari oleh satu pondasi kokoh, terhubung langsung ke masing-masing otot sirip, pondasi itu berupa “finansial”, sebuah anatomi non-fisik yang  menentukan seberapa lihai mereka berenang di lautan ini.

Dalam satu lanskap potret sosial misalnya, hampir pasti terdiri dari banyak spektrum kemampuan yang saling tumpang tindih jadi satu. Tujuan paling rendahnya mungkin satu; tidak perlu jadi spektrum paling vibrant, cukup untuk bisa tampil dan terlihat dalam frame walau dengan warna pastel nan soft. Dibalik layar, banyak siasat yang dilakukan society ini untuk bisa bertahan-paling tidak-di titik tersebut.

Alokasi kewarasan harus diracik setiap hari, timbang kanan timbang kiri, hasil akhir sering tidak dipedulikan lagi. Mengesampingkan neraca logika, tentang mana yang prioritas dan mana yang tidak, semua berusaha dan berebut “tampil” di dalam frame-atau fame?-tersebut, ego diri sendiri terus menerus dapat makan dari suapan-suapan opini diri sendiri yang berkiblat pada opini orang lain. Tanggapan orang lebih penting dari suara perut yang mungkin 10 menit sekali berdering, mencoba mengingatkan akal sehat, tapi luruh jauh sebelum sampai ke otak, terganjal kepuasan opini dari sosial media yang ditangkap lewat kornea mata.

Selayaknya makhluk sosial, semua kita berketergantungan dengan yang lainnya, individu ke individu, spektrum satu ke spektrum yang lain. Banyak yang tidak tertangkap lensa, sekali lagi; di balik layar banyak hal terjadi dan tidak perlu dapat atensi, karena bukan jadi social currency, lebih ke siasat bertahan hidup untuk bisa berenang dan tidak tergulung gelombang.

Misalnya, peran tukang roti dengan merk dagang “Surya Bakery” yang setiap hari keliling masuk ke seluk beluk gang di pinggir Jl. Antasari, ternyata berperan vital untuk jadi suplay energi karyawan bilangan Sudirman. Untuk bisa berenang, untuk bisa terus hook up sama kebiasaan ikan-ikan di daerah tersebut.

Demi bisa berenang bersama di Lautan Kota, formula 4 sehat 5 sempurna harus ditunda mati-matian, diganti dengan roti gandum rumahan yang rasanya sudah cukup fancy berisikan pisang coklat yang manisnya seringkali tidak merata. Setiap hari lidah dan lambung ditipu, setiap hari kebutuhan tubuh dibodoh-bodohi, otak udah terbiasa dan sepakat untuk tidak terlalu peduli soal Gizi, yang penting gengsi terpenuhi dan masuk ke dalam frame yang hanya menyuguhi Social Currency.

Lalu bagaimana seharusnya? Tidak bagaimana-mana, selama bisa hidup dan berenang, strategi silahkan atur sendiri. Perhatikan Untung-Rugi, lalu semuanya boleh dijalani. Selamat berenang!

by Nunu Anugrah

Posted on