Ada hidup yang berjalan tanpa terburu-buru. Bangun pagi, memakai seragam yang sama, menyiram tanaman, memutar kaset lama, lalu berangkat bekerja. Dalam Perfect Days, Hirayama menjalani hari-harinya dengan cara yang sederhana, nyaris sunyi. Tapi justru di sanalah hidup terasa penuh. Dari hal-hal kecil yang sering kita lewati, kopi kaleng dari mesin minuman di pagi hari, benda-benda yang disusun rapi, cahaya yang jatuh di sela dedaunan, film ini mengajak kita melihat hidup bukan dari apa yang kurang, tapi dari apa yang hadir.
Hirayama bukan tokoh yang banyak bicara. Ia bekerja sebagai pembersih toilet, merawat ruang yang sering dianggap kotor dan tak penting. Tapi caranya bekerja penuh perhatian, seolah setiap sudut layak diperlakukan dengan hormat. Ia merawat tanaman kecil seperti makhluk hidup yang setara, memotret cahaya dan bayangan di taman, mencuci foto-fotonya dengan sabar. Rutinitas yang berulang justru menjadi ruang aman, tempat ia berdamai dengan hidup.
Namun Perfect Days tidak membohongi kita dengan kebahagiaan yang selalu utuh. Ada momen rapuh yang tak bisa dihindari: kaset kesayangan yang harus dijual demi bensin, cinta yang tak pernah benar-benar dimiliki, pertanyaan tentang pekerjaan yang dijawab dengan senyum tapi menyisakan luka. Hirayama mengajarkan bahwa menjalani hidup bukan berarti selalu menang, tapi tahu kapan harus mengalah, menerima, lalu tetap berjalan.
Di sela semua itu, film ini terasa sangat dekat. Kaset-kaset favorit yang diputar berulang, restoran dengan menu yang sama, toko buku bekas di akhir pekan, onsen, bir dan rokok setelah patah hati. Kebahagiaan tidak datang sebagai pencapaian besar, tapi hadir diam-diam lewat hal-hal kecil dan mungkin justru karena itu terasa jujur.
Perfect Days mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak bisa dibandingkan, tidak bisa diukur, dan tidak perlu dibuktikan. Ia hanya perlu dirasakan. Pelan-pelan. Hari demi hari.
Ada banyak momen kecil dalam Perfect Days yang diam-diam tinggal lama di kepala. Seperti ketika Hirayama tersenyum menghadapi situasi yang sebenarnya menyakitkan. Saat seorang anak kecil hilang dan akhirnya ditemukan, ibunya justru mengelap tangan si anak dengan ekspresi jijik, seolah pekerjaan Hirayama adalah sesuatu yang kotor dan harus dijauhkan. Hirayama tidak membalas dengan marah. Ia hanya menerima, tetap tersenyum, tetap melanjutkan harinya. Di situ terasa jelas: tidak semua hal perlu dilawan, tidak semua luka perlu dijelaskan.
Film ini juga jujur tentang keterbatasan. Tentang hidup yang kadang tidak berjalan sesuai prinsip yang ingin kita pegang. Hirayama meminjamkan uang pada temannya, menolak menjual kaset kesayangannya, tapi akhirnya tetap harus menjual kaset itu demi membeli bensin. Ada momen di mana kita harus mengalah pada hidup, bukan karena kita kalah, tapi karena kita ingin tetap berjalan. Kebahagiaan tidak selalu datang dari mempertahankan segalanya.
Ada pula patah hati yang sederhana tapi terasa dekat. Ketika ia melihat perempuan yang ia sukai dipeluk orang lain, Hirayama tidak membuat drama. Ia membeli bir dan rokok, lalu menenggelamkan perasaannya dalam kesunyian. Adegan itu terasa manusiawi. Bahwa bahkan orang yang tampak paling tenang pun tetap punya luka yang tidak bisa dirapikan dengan rutinitas.
Salah satu adegan paling rapuh adalah pertemuannya dengan saudarinya. Saudari yang tampak mapan, datang dengan mobil bagus dan cokelat kesukaan masa kecil. Ketika ditanya pekerjaannya, Hirayama menjawab bahwa ia membersihkan toilet, dengan senyum yang tenang. Tapi setelah saudarinya pergi, senyum itu runtuh. Ada kesedihan yang tertinggal, perasaan dibandingkan, perasaan tidak cukup. Di titik itu, film ini berhenti menjadi sekadar tentang kesederhanaan, dan berubah menjadi tentang keberanian memilih hidup yang mungkin tidak dipahami orang lain.
Rutinitas Hirayama juga diselingi dengan proses yang sangat personal: memilih foto, mencuci foto, menatap hasil cetakannya. Foto-foto taman, bayangan cahaya, kolam dengan angsa, ibu-ibu di restoran. Kadang ia menatap foto itu lama, kadang terlihat bosan, seolah ada emosi yang sulit dijelaskan, mungkin karena ingatan tentang keponakannya, atau tentang masa lalu yang tak sepenuhnya selesai. Film ini menunjukkan bahwa emosi bukan sesuatu yang bisa dijinakkan hanya dengan kebiasaan baik.
Kedatangan keponakannya membuka sisi lain dari Hirayama. Mereka berbagi kamera, buku, dan perjalanan ke laut. Di sana ia mengatakan kalimat sederhana namun kuat: “Jika tidak ada yang pernah berubah, bukankah itu absurd?” Pertanyaan itu muncul bersamaan dengan kesadaran lain: bahwa dunia terdiri dari banyak dunia, beberapa saling terhubung, beberapa tidak. Dalam Perfect Days, perubahan tidak datang sebagai kejutan besar, tapi sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Orang datang dan pergi, perasaan muncul lalu mereda, hidup bergerak meski rutinitas terlihat sama.
Hirayama tidak berusaha menyatukan semua dunia itu. Ia tidak memaksa masa lalu untuk kembali, tidak memaksa masa depan untuk segera tiba. Ia memilih hadir sepenuhnya di dunia yang sedang ia jalani sekarang. Sekarang adalah sekarang. Kondo wa kondo. Ima wa ima. Bukan sebagai bentuk penyangkalan, tapi sebagai penerimaan, bahwa hidup terus berubah, dan tidak semua hal harus kita pahami atau genggam bersamaan.
Di titik ini, film ini terasa seperti pengingat lembut: bahwa kita boleh hidup di dunia kita sendiri, berdampingan dengan dunia orang lain, tanpa harus saling menembus. Bahwa menerima perubahan bukan berarti kehilangan arah, melainkan belajar berdiri di saat ini, sepenuhnya.
Pertemuannya dengan pria asing, mantan suami dari perempuan yang melayaninya di restauran, juga meninggalkan kesan mendalam. Tentang cara memandang dunia dari sudut yang berbeda, tentang bermain menangkap bayangan meski tidak semua orang bisa melihat apa yang kita lihat. Hirayama gigih, tapi ia tetap melanjutkan usahanya. Tidak untuk membuktikan apa-apa, hanya karena itu caranya menikmati hidup.
Perfect Days akhirnya terasa dekat dengan mereka yang pendiam. Mereka yang tidak selalu pandai menjelaskan perasaannya, tapi peka pada hal-hal kecil. Mereka yang bisa ikut bahagia ketika orang lain menyukai lagu yang sama. Di titik inilah musik mengambil peran penting.
Lou Reed, The Velvet Underground, Nina Simone, dan Patti Smith memiliki satu benang merah: mereka bernyanyi tentang hidup apa adanya. Tidak berisik, tidak berlebihan, tidak mencoba mengesankan siapa pun. Musik di Perfect Days tidak hadir untuk mengarahkan emosi penonton, tapi menemani, seperti teman yang duduk diam di sebelah kita.
Kaset-kaset lama seperti The Velvet Underground – Pale Blue Eyes bukan sekadar musik, tapi teman hidup. Lagu-lagu ini menjadi ruang aman, tempat perasaan boleh hadir tanpa harus dijelaskan. Seperti Hirayama, musik di film ini tidak meminta untuk dipahami sepenuhnya. Ia hanya ada. Dan justru karena itu, terasa sangat manusiawi.
Perfect Days tidak memberi jawaban pasti. Kita tidak tahu apakah Hirayama tetap tinggal di sana atau pergi. Tapi mungkin memang bukan itu yang penting. Yang penting adalah caranya menjalani hari: melihat, merawat, menerima, dan merayakan hidup dalam bentuknya yang paling sederhana.
By Roo