Senin, 5 Januari 2026.
Hari ini bangun rasanya lebih berat dari hari-hari kemarin. Pagi ini kita makan sarapan polusi lagi, kemacetan lagi, absen lagi, dan huru-hara kecil yang terulang lagi. Semua kembali ke tempatnya masing-masing, seolah liburan hanya terjadi dalam beberapa kedipan mata.
Ya, hari ini hari pertama kembali ke dunia kerja. Tapi pikiran dan jiwa masih terpaku sama nikmatnya makanan dan indahnya petasan akhir tahun. Pula pada hari-hari yang tidak diukur jam masuknya, tidak dihitung output-nya, dan tidak ditagih kehadirannya. Detik ini tubuh mungkin sudah duduk di kursi kerja, tapi kepala masih tertinggal entah di mana.
Kutanya teman-temanku, ternyata bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama, mereka pun juga. Bukan sedih yang dramatis, bukan pula malas yang bisa ditertawakan. Lebih seperti perasaan setengah hadir. Ada yang menyebutnya kosong, ada yang bilang jenuh, ada juga yang tidak tahu harus menamai apa. Yang jelas, semuanya sepakat: memulai lagi terasa berat.
Belakangan aku tahu perasaan ini sering disebut post holiday syndrome. Istilahnya terdengar rapi, seolah semua bisa dijelaskan dengan satu frasa. Padahal yang kurasakan bukan sakit, bukan juga kehilangan. Lebih seperti kaget. Kaget karena ritme hidup berubah terlalu cepat, dari hari-hari yang berjalan pelan ke hari-hari yang berlari.
Selama liburan, hidup terasa tidak sedang diuji. Tidak ada yang harus dibuktikan. Tidak ada notifikasi yang harus segera dijawab. Waktu berjalan apa adanya, tanpa tuntutan terlihat produktif. Lalu hari ini, semuanya kembali dihitung. Jam, kehadiran, performa. Bukan liburannya yang membuat berat, tapi kontrasnya. Lompatan dari satu dunia ke dunia lain yang terlalu jauh.
Di titik ini aku mulai berpikir, mungkin yang kita rindukan bukan liburannya. Tapi versi hidup yang tidak selalu terasa dikejar. Versi hidup di mana bangun pagi tidak langsung disambut daftar kewajiban. Liburan hanya mengingatkan bahwa hidup bisa berjalan dengan cara yang lebih manusiawi, walau hanya sebentar.
Kita hidup di dunia memuja-muja emosi ekstrem. Bahagia maksimal saat liburan, kuat maksimal saat bekerja. Seolah hidup harus selalu berada di salah satu ujung. Padahal yang sering kita butuhkan bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi hidup yang tenang dan stabil. Hidup yang bisa dijalani tanpa harus selalu menunggu libur berikutnya sebagai penyelamat.
Di situ juga kejenuhan dan kebosanan mulai terasa berbeda. Rutinitas yang membosankan, tapi tidak melukai. Hari-hari yang berjalan pelan, tanpa drama, tanpa euforia. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar menyedihkan. Tapi bagi yang terbiasa bertahan, ini justru terasa aman. Tanda bahwa hidup tidak sedang runtuh, hanya sedang berjalan.
Mungkin hidup memang tidak harus selalu terasa penuh atau istimewa. Mungkin cukup stabil. Cukup tenang untuk bosan. Cukup aman untuk dijalani tanpa harus dirayakan atau dilawan. Setidaknya, itu satu cara lain memandang hidup—sambil duduk lagi di meja yang sama, di hari kerja yang kembali berjalan seperti biasa.
by Ezra Kerenhapukh